Album Kenangan Haji

Senin, 21 Juli 2008

Adab Waktu Membaca AL-FÂTIHAH

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap muslim yang melaksanakan shalat hendaknya tahu bahwa ia berhadapan langsung dengan Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Agung; dan akan bercakap-cakap dengan-Nya, Yaitu pada waktu ia membaca Al-Fâtihah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsî, yaitu firman Allâh Yang Maha Tinggi -- secara langsung kepada Nabi saw. --:

قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَ بَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Artinya:
"Aku membagi shalat menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku -- mendapat -- apa yang ia minta".

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) قَالَ اللهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي

Artinya:
Maka ketika hamba itu berkata: (Al-Hamdulillâhi Rabbil-'Âlamîn): "Segala puji bagi Rabb seluruh alam". Maka Allâh pun menjawab: (Hamidanî 'abdî): "Hamba-Ku telah memuji Aku".

فَإِذَا قَالَ (الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ) قَالَ اللهُ : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

Artinya:
Maka ketika hamba itu berkata: (Ar-Rahmânir-Rahîm): "Yang Maha Pemberi lagi Maha Penyayang". Maka Allâh Yang Maha Tinggi menjawab: (Atsnâ 'alayya 'abdî): "Hamba-Ku telah menyanjung-Ku".

فَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) قَالَ : مَجَّدَنِي عَبْدِي

Artinya:
Maka ketika hamba itu berkata: (Mâliki Yaumid-Dîn): "Yang merajai hari pembalasan". Maka Allâh menjawab: (Majjadanî 'abdî): "Hamba-Ku telah mengagungkan Aku".

فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ) قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَ بَيْنَ عَبْدِي وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Artinya:
Maka ketika hamba itu berkata: (Iyyâ-Ka na'budu Wa Iyyâ-Ka nasta'în): "Hanya kepada-Mu kami ber'ibadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan". Maka Allâh menjawab : (Hâdzâ bainî wa baina 'abdî): "Ini -- ucapan -- yang membagi antara bagian-Ku dan antara bagian hamba-Ku; dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta".

فَإِذَا قَالَ (إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِْ . غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّآلِّيْنَ)

Artinya:
Maka ketika hamba itu berkata: (Ihdinâsh-Shirâthal-Mustaqîm. Shirâthal-Ladzîna An'amta 'alaihim. Ghairil-Maghdhûbi 'alaihim Wa ladh-Dhâllîn):"Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat".

قَالَ : هَذَا لِعَبْدِي وَ لِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Artinya:
Maka Allâh menjawab: (Hâdzâ li'abdî Wa li'abdî Mâ Sa-ala): "Ini -- permintaan -- merupakan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta".
(H.R. Ahmad dan Muslim dari Abû Hurairah. Lihat Al-Fathul-Kabîr jilid IV hal. 118 no. 4202)

Al-Imâm Ibnul-Qayyim (rahimahullâh) telah memberikan petunjuk yang jelas sekali tentang tata cara atau adab membaca surah Al-Fâtihah di dalam shalat; beliau berkata: Ketika seorang berkata:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya:
"Aku berlindung kepada Allâh dari syaithân yang terkutuk".

Maka sesungguhnya ia telah menempatkan dirinya pada sandaran yang amat kuat -- yaitu Allâh SWT. --, dan berpegang dengan daya dan kekuatan-Nya dari -- serangan -- musuhnya yang ingin memutus hubungannya dengan Rabb-nya serta menjauhkannya dari dekat-Nya, agar ia berada dalam keadaan yang buruk.

Dan ketika ia berkata:
(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ)
Hendaklah ia diam sejenak, menantikan jawaban Rabb-nya kepadanya, yaitu:
(حَمِدَنِي عَبْدِي)
Dan ketika ia berkata:
(الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ)
Hendaklah ia diam sejenak, menantikan jawaban Rabb-nya kepadanya, yaitu:
(أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي)
Dan ketika ia berkata:
(مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ)
Hendaklah ia diam sejenak, menantikan jawaban Rabb-nya kepadanya, yaitu:
(مَجَّدَنِي عَبْدِي)
Maka, alangkah lezat perasaan hatinya, sejuk pandangannya dan gembira jiwanya karena jawaban Rabb-nya sebanyak tiga-kali kepadanya. Demi Allâh, seandainya hati itu tidak ditutup oleh kabut syahwat dan mendungnya jiwa, niscaya ia akan terbang karena perasaan gembira dan senang terhadap jawaban Rabb-nya, Pencipta-nya dan Sembahan-nya:
(حَمِدَنِي عَبْدِي) (أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي) (مَجَّدَنِي عَبْدِي)

(Lihat "Kitâbush-Shalâh Wa Hukmu Târikiha" oleh Al-Imâm Ibnul-Qayyim hal. 172-173)

Berkata Al-Ustadz Muhammad 'Al Ash-Shâbûnî:
"Wahai saudara-ku sesama Islâm, tetapkan dan mantapkanlah bacaan-mu terhadap Kitâbullâh, dan tadabbur (renungkan)lah ia dengan penuh perhatian. Dan bersungguh-sungguhlah membacanya, baik di dalam shalat maupun di luar shalat dengan sikap tenang, tidak terburu-buru, khusyu' dan merendah diri. Dan hendaklah engkau berhenti di tiap ujung ayat. Dan penuhilah tata tertibnya, daripada tajwid dengan tanpa memberat-beratkan dalam melagukannya, atau sibuk dalam melafazhkannya tanpa merenungkan maknanya. Karena tadabbur yang sungguh-sungguh akan membantu-mu memahaminya (Al-Qur-ân)".

Minggu, 20 Juli 2008

Dicinta Karena Bersahaja

Seorang rekan mengajak saya ke kedai kopi yang berjarak beberapa toko di samping kantor. Kebetulan pagi itu saya belum sarapan di rumah (mess), maka saya pun menyambut baik ajakan itu.

Suasana nampak meriah ketika kami sampai di halaman kedai kopi nan luas itu. Saking ramainya, kursi-kursi dan meja plastik pun dikerahkan hingga ke halaman kedai. Kesemarakan suasana kedai kopi di kota Banda Aceh ini terjadi setiap hari. Tampaknya menjadi kenikmatan tersendiri bisa nongkrong beberapa saat di kedai kopi, sambil menyeruput beberapa cangkir kopi dan kue-kue basah yang khas.

Sudah banyak diketahui, bahwa kedai kopi yang bertebaran di Banda Aceh ini, memiliki fungsi yang cukup beragam. Sebagai ajang bersosialisasi, menjalin pertemanan, berdiskusi, bermusyawarah, bersilaturahim, berbagi informasi, ngerumpi, atau pun melakukan negosiasi bisnis. Kebiasaan dan keterikatan mereka kepada kedai kopi ini agaknya sudah cukup mendarah daging dan terwariskan secara turun menurun. Wajarlah jika ada orang yang menjuluki kota ini—selain kota serambi Makkah yang sudah kita kenal— sebagai kota “seribu kafe”. Kata “seribu” adalah kata kiasan yang menunjukkan betapa kedai kopi atau kafe tumbuh subur bagaikan jamur di beberapa tempat.

Kami menembus kerumuman orang yang bertebaran di sekitar halaman kedai yang penuh dengan kepulan asap rokoknya yang khas. Kami berkehendak masuk ke dalam. Ketika kami memasuki kedai kopi itu, nampak sosok orang yang telah dikenal oleh rekan saya. Rekan saya memberikan salam, sosok orang yang sedang duduk menikmati secangkir kopi pun menjawab salam dengan penuh persahabatan. Mereka berjabat erat layaknya saudara akrab yang sudah lama bertemu. Saya diperkenalkan olehnya, kemudian saya pun menjabat tangan sosok orang yang memakai baju safari dengan pin bertulis namanya di dadanya itu.

Sembari menikmati kopi khas Banda Aceh dan beberapa kue sebagai pengganjal perut, rekan saya itu mengobrolkan masalah-masalah yang menjadi bahasan di media lokal. Nampak sekali sosok itu begitu perhatian dengan masalah yang ditanyakan dan berusaha menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Saya sekali-sekali saja memberikan respon karena ada beberapa topik yang belum familiar. Saya adalah pegawai baru di Kota Banda Aceh waktu itu, sedangkan rekan saya sudah tahunan (sekitar 9 tahun) tinggal di sana. Wajarlah jika ia nampak mengetahui perkembangan berbagai permasalahan yang ada di kota ini.

Sosok itu agaknya harus terburu-buru menuju tempat kerja. Dia berpamitan kepada kami untuk meninggalkan kedai kopi terlebih dahulu. Sepeninggalan dia, barulah rekan saya mengungkapkan bahwa sosok itu adalah salah seorang wakil rakyat di kota Banda Aceh ini. Sungguh saya tidak menyangka karena sikapnya yang cukup bersahaja dan rendah hati. Tidak nampak suatu pertanda bahwa ia merasa lebih tinggi dari yang lain atau pertanda bahwa ia meremehkan kami sebagai rakyat biasa.

Sosok-sosok yang bersahaja sering juga saya temui tatkala mereka seringkali menunaikan sholat maghrib atau isya berjamaah di masjid gampong kami. Beberapa wakil rakyat itu rupanya sering mengunjungi sebuah kantor organisasi Islam yang terletak berdekatan dengan masjid gampong.
Rasa-rasanya, semuanya tampil sederhana. Mereka membaur dengan beberapa konsituen yang mengusung mereka tanpa ada rasa canggung atau ada jarak di antara mereka. Masyarakat gampong pun biasa-biasa saja menerima kedatangan mereka. Tidak ada yang istimewa. Semua adalah hamba yang berhajat bertemu dengan Rabb mereka di masjid.

Semua kondisi itu mengingatkan saya pada kondisi Rasulullah Saw ketika berada di tengah para sahabat, membaur bersama mereka. Diriwayatkan, sulit bagi orang yang belum mengenal wajah Rasulullah Saw (misalnya orang asing yang hendak menghadiri majelis Rasululullah) untuk mengidentifikasi siapakah yang bernama Muhammad Rasulullah Saw itu, meski namanya sudah masyhur ditelinganya. Orang asing itu baru akan bisa dengan mudah mengidentifikasi Rasulullah Saw jika beliau sedang berbicara dihadapan para sahabat beliau. Karena kata-kata yang keluar dari beliau adalah perkataan agung dan mulia, sungguh lain dari perkataan orang kebanyakan. Kata-kata beliau adalah wahyu, yang penuh makna, mencerahkan, dan mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.

Melihat fenomena yang cukup unik itu, hati ini pun bertanya: apa yang menyebabkan mereka —para wakil rakyat itu—bisa bersahaja? Setelah berjalan cukup lama, barulah saya mengetahui bahwa ternyata mereka semua bukan digaji oleh negara, tetapi oleh organisasi yang mengusungnya. Tentu bukan berarti tidak ada penghasilan dari negara, akan tetapi semua penghasilan itu mereka setor (kumpulkan) dahulu ke kas (baitul maal) milik organisasi kemudian pengelola kas organisasi (atas kebijakan dari pimpinan) inilah yang memberikan gaji kepada mereka. Besaran gaji yang diberikan tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing mereka sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan yang telah disepakati bersama.

Selain itu mereka boleh jadi menyadari bahwa status yang diduduki sekarang ini adalah wujud dari amanah organisasi dan umat Islam yang ada dibelakangnya. Jadi, apa-apa yang diterima semua dikembalikan kepada organisasi sebagai wujud pertanggungjawaban mereka terhadap ummat.

Kondisi inilah yang bisa jadi mampu meredam isu-isu negatif dari kader atau simpatisan organisasi. Mereka merasa aman dan nyaman karena yakin tokoh-tokoh yang mereka perjuangkan berkonsentrasi terhadap tugas dakwah dan tidak memikirkan masalah financial karena semuanya diserahkan pada kebijakan organisasi. Tidak ada aroma kebencian, iri, atau dengki. Justru yang menyebar adalah rasa cinta dan ketulusan untuk membantu kelancaran tugas dari para wakil rakyat itu.

Ada hikmah yang bisa kita petik, sesungguhnya perasaan dan kepercayaan umat bisa dijaga dengan sikap kesederhanaan dan kebersahajaan pejabat publiknya. Sebagaimana Rasulullah Saw dan beberapa sahabat mencontohkan lebih menyukai kehidupan yang sederhana (zuhud) meski khazanah perbendahaan dunia terbuka luas untuknya.

Sejarah menggoreskan tinta emas untuk mereka (Rasulullah dan generasi salaf). Dengan kesederhaan dan kebersahajaan itu mereka dicintai oleh ummat dan meninggalkan prestasi gemilang yang pelajaran dan ibrohnya dibisa dipetik oleh ummat setelahnya.

Sedangkan fenomena yang sebaliknya, banyak kita lihat pada perilaku manusia pada zaman terakhir ini. Karena silau dengan gemerlap harta yang terbentang dihadapan, mereka menjadi lupa. Penderitaan rakyat yang makin menghimpit tidak mampu menahan laju hawa nafsu dunia dan menumbuhkan empati kebaikan. Akhirnya, bukan prestasi yang diukir, akan tetapi bui yang menjeruji dan makian yang senantiasa mengalir. Sungguh, sebuah perniagaan yang merugikan. Mereka mendapatkan harta dengan bayaran kematian sebelum kematian, yaitu kematian nama baik dan kehormatan diri. Itulah imbalan yang pantas buat keserakahan. Na’udzubillahi min dzalika. Wallahu’alam bishshawaab. ( Dikutip dari : Muhammad Rizqon )

Penjual Bubur Ayam dan Bubur Kacang Ijo

Aku sangat menyukai bubur ayam, baik bubur ayam Bandung ataupun bubur ayam Betawi. Dan favoritku adalah bubur ayam yang biasa mangkal di depan kantor. Saban pagi hari, aku akan mampir dulu ke sana untuk beli bubur ayam sebagai santap pagi.

Bubur ayam ini selalu ramai dikunjungi khalayak. Antriannya panjang, aku bisa menghabiskan waktu 15 menit untuk mendapatkan pesanan. Telat sedikit saja, aku harus menunggu sampai esok pagi. Kadang-kadang penjual bubur ayam tersebut juga menerima orderan yang sangat banyak. Pokoknya, penjual bubur ayam ini selalu kewalahan menghadapi pelanggannya. Sebenarnya, inilah yang membuat aku ingin mencoba bubur ayam ini ketika pertama kali ke sana, ya…antriannya itu! Itu kan tanda bubur ayamnya enak. Dan ternyata aku tidak salah pilih, bubur ayamnya memang lezat.

Di sebelah penjual bubur ayam ini, ada juga gerobak-gerobak lain, salah satunya adalah penjual bubur kacang ijo. Kontras sekali dengan tetangganya, gerobak bubur kacang ijo ini relatif sepi. Benar-benar beda!
Dan aku sangat takjub suatu kali. Ketika itu, aku sedang menunggu pesanan bubur ayamku. Si penjual bubur ayam saat itu benar-benar kewalahan. Orderannya benar-benar banyak. Ada yang minta dibungkus dan ada pula yang minta pesanan yang dimakan di tempat. Sementara itu, mangkoknya banyak yang belum tercuci.


Ketika itulah, sebuah bantuan datang. Si penjual bubur kacang ijo menawarkan beberapa mangkok kepada si penjual bubur ayam untuk dipakai. Tak hanya itu, dia pun lalu mencucikan mangkok-mangkok yang kotor. Tanpa diminta dan tanpa banyak bicara. Pemandangan seperti itu ini tidak hanya terjadi satu dua kali saja. Setiap aku mampir ke sana dan penjual bubur ayam sedang kewalahan, penjual bubur kacang ijo selalu datang membantu.

Dan ternyata, penjual bubur ayam mengakui bahwa tetangganya tersebut memang orang yang baik hati dan senang menolong. Ia tidak pernah menunjukkan kebencian ataupun persaingan yang tidak sehat walaupun mereka sama-sama menjual makanan untuk sarapan pagi.
Subhanallah, aku sungguh kagum dengan ketulusan melalui penjual bubur kacang itu. Ketulusan yang jarang sekali kutemui, apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan persaingan.
Pertolongan tanpa pamrih menjadi suatu barang langka yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Kebanyakan orang akan menolong orang lain jika ada semacam simbiosis mutualisme alias untung sama untung. Malah ada juga yang hidup berdengki, yaitu tidak suka melihat orang lain bahagia. Mengutip kalimat-nya Aa Gym, dengki adalah susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.
* * *
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Anas bin Malik bercerita bahwa suatu hari ia duduk bersama Rasulullah saw. Lalu Rasulullah berkata, “Akan datang seorang ahli surga.” Tidak berapa lama, datanglah seorang laki-laki dengan membawa sandal di tangan kirinya dan jenggotnya terlihat basah terkena air wudhu.

Esok harinya Rasulullah SAW berkata seperti itu lagi dan masuk orang laki-laki yang sama. Pada hari yang ketiga, beliau juga berkata seperti itu dan masuk orang laki-laki yang sama. Ketika Nabi meninggalkan tempat kami duduk, Abdullah bin Amr mengikuti orang itu dan berkata padanya, ”Aku telah bertengkar dengan bapakku dan aku bersumpah untuk tidak pulang ke rumah selama tiga hari, maka kalau kamu izinkan aku untuk menginap di rumahmu selama tiga hari dan setelah itu aku pulang ke rumah.”
Orang itu berkata, ”Boleh”

Maka ia tinggal selama tiga hari di rumah orang itu dan ia tidak pernah melihat orang itu bangun tengah malam, kecuali sebelum ia tidur ia berdoa kepada Allah. Laki-laki itu tidak berbicara kecuali hal-hal yang baik saja. Setelah tiga hari berlalu, Abdullah bin Amr mengaku pada si pemilik rumah, ” Sesungguhnya aku tidak bertengkar dengan ayahku dan akupun tidak minggat dari rumah. Aku mendengar dari Rasulullah bahwa engkau adalah salah seorang dari ahli surga dan aku sangat ingin mengetahui apa yang telah engkau kerjakan sehingga kamu mendapatkan kemuliaan ini. Akan tetapi aku tidak melihat kamu banyak melakukan ibadah-ibadah. Apa sesungguhnya yang telah kamu kerjakan?”

Orang itu berkata, ” Tidak ada yang aku kerjakan selain apa yang telah kamu lihat. Ibadah yang aku kerjakan sebagaimana yang kamu lihat, akan tetapi sesungguhnya tidak ada dalam hatiku keinginan berbuat curang (kebencian) kepada orang-orang muslim atas apa yang telah Allah berikan terhadap mereka.”
Lalu Abdullah bin Amr berkata, ” Inilah perbuatan yang telah kamu lakukan dan kami tidak dapat melakukannya.”

Ya, dengki. Menjauhinya membawa keselamatan dunia akhirat dan mengkutinya adalah membawa kerugian dunia akhirat. Betapa tidak, seorang pendengki selalu resah akan kebaikan dan anugerah yang dinikmati oleh orang lain. Ia tak akan tenang sampai kenikmatan itu hilang dari orang lain. Dan ia tak akan rela melihat kebahagiaan orang lain.

Dengki bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Ia bisa muncul di tengah-tengah keluarga sehingga anak yang satu menjadi benci terhadap saudaranya yang lain. Ia bisa menyeruak di sekolah sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat di antara pelajarnya. Ia pun bisa terbit di hati seorang tetangga sehingga menimbulkan rasa iri terhadap kekayaan tetangganya. ( dikutip dari : Asiyah Maryam )

15 Tips Membangun Semangat Belajar Anak

Anak Anda berhak meraih kesuksesan. Kesuksesan anak Anda berawal dari semangat Anda mengantar mereka menuju kesuksesan itu.

Banyak orangtua mengeluh karena anaknya kurang semangat belajar. Anak cenderung suka bermain ataupun kegiatan yang lain, seperti olahraga, les tari, vokal, dan lain sebagainya.

Anak kurang tertarik dan tidak bersemangat saat diajak bicara seputar kegiatan belajarnya di sekolah. Sampai akhirnya orangtua mendapatkan prestasi belajar anak yang mengecewakan.

Apa yang akan Anda lakukan sebagai orangtua ? Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap anak Anda tersebut ? Dapatkah Anda hanya menyalahkan anak ? Memarahi ? Menghukum ? Atau memojokkan dengan cara membanding-bandingkan anak dengan teman atau saudara yang lain ? Dapatkah itu menjadi pemecah masalah sehingga anak Anda menjadi lebih baik ?

Jawabannya adalah ‘tidak'. Cara-cara tersebut telah terbukti tidak dapat membantu anak menjadi lebih baik. Namun justru akan merusak dan menghancurkan semangat dan rasa percaya diri anak saat ini dan saat mendatang.

Berikut ada 15 tips Membangun Semangat Belajar Anak :

1. Biasakan diri Anda mengucapkan kalimat-kalimat motimatif pada anak. Seperti : Kamu anak pintar. Cobalah terus, kamu pasti berhasil. Ayo, kamu pasti bisa , dan sebagaimya. Kalimat-kalimat tersebut akan berdampak positif langsung pada anak.

2. Ajaklah anak untuk terbiasa berdoa sebelum memulai pekerjaan. Tumbuhkan rasa butuh akan berdoa pada anak. Dengan begitu anak akan mulai belajar merasakan kebersamaan Allah dimanapun ia berada.

3. Cobalah memberi tes pelajaran yang Anda yakin anak akan mampu menyelesaikan dengan mudah, tanpa kesulitan sama sekali. Misalnya mengerjakan soal berhitung sederhana. Setelah anak berhasil, Anda akan melihat betapa bangga dan gembiranya ia. Biarkan anak mengekspresikan kegembiraannya.

4. Berilah reaksi positif berupa pujian saat ia berhasil menyelesaikan pekerjaan yang Anda berikan. Usahakan untuk tidak mencela ataupun mengritik kesalahan yang dilakukan anak. Karena itu hanya akan menyebabkan anak berputus asa dan merasa gagal.

5. Tumbuhkan pemahaman bahwa Allah sayang orang-orang yang mau berusaha untuk memperbaiki diri. Dengan itu anak akan merasa bahwa Allah suka dengan orang yang mau berusaha dan tidak berputus asa.

6. Rangsang minat belajar anak dengan memberi pemahaman bahwa belajar akan menghasilkan sebuah keberhasilan yang sangat berharga bagi dirinya saat ini dan saat mendatang.

7. Biarkan anak untuk mengerjakan pelajaran yang lebih disukai dan yang dapat dikerjakan dengan mudah.

8. Sebaiknya Anda tidak mengharapkan hasil yang besar dalam waktu yang singkat. Anak Anda membutuhkan waktu untuk membangun semangat dan rasa percaya dirinya. Anak akan merasa kesal bila Anda mendesak dan memaksanya untuk berbuat lebih baik.

9. Berilah hadiah sederhana bila anak menunjukkan keberhasilannya. Upayakan agar hadiah yang Anda berikan pada anak bervariasi. Sehingga dengan begitu anak tidak merasa bosan.

10. Jangan lupa untuk memberi anak waktu istirahat yang pantas dari waktu belajarnya di rumah. Mungkin dapat Anda lengkapi istirahat anak dengan es krim ataupun sepotong roti. Suasana istirahat yang menyenangkan akan menjadi hal yang istimewa bagi anak.

11. Bagi Anda yang memiliki anak balita, buatlah alat peraga yang kreatif untuk menunjang kegiatan belajar anak di rumah. Misalnya saat mengajak anak belajar membaca dan berhitung. Anda dapat mengajak anak membuat alat peraga membaca bersama dari kertas yang sudah tidak terpakai.

12. Untuk merangsang kemampuan daya pikir anak, berilah pengalaman menarik kepada anak. Misalnya dengan mengajak anak ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi anak. Pengalaman baru tersebut akan memperkaya dan memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan anak.

13. Mintalah anak menulis apa yang dilihatnya. Kemudian rangsanglah anak untuk menceritakan pengalamannya. Respon positif Anda sangat berarti bagi anak. Anak akan merasa dirinya dihargai hingga tumbuh semangat, rasa bangga dan gembira.

14. Hindari membantu anak mengerjakan tugasnya. Hal yang itu justru akan mendorong lahirnya ketergantungan anak pada Anda. Biarkan anak belajar dari pengalaman dengan menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

15. Beri motivasi anak untuk mencari dan menemukan jalan keluar saat ia menghadapi masalah.
Selamat Mencoba

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dengan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya kepada Pak Tua. Pak Tua yang bijak itu, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya," ujar Pak tua itu. "Pahit, Pahit sekali", jawab sang tamu sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu sedikit tersenyum, ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah,” ujar Pak tua itu memerintah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama,

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.

"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan".

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Sabtu, 12 Juli 2008

Cuaca Madinah 4 Derajat Celcius

Saat Melaksanakan Ibadah ARBAIN ( Sholat Rowatib selama 8 hari atau 40 kali Sholat Rawatib ) di Masjid Nabawi Madinah, seakan terasa lebih berat pada musim Haji tahun 2007 kemarin, hal ini karena saat itu bersamaan dengan musim dingin bulan Desember 2007, yang dapat dilihat dari alat pengukur suhu udara yang kala itu menunjukkan angka kisaran 4 sampai 5 derajat celcius.

Sungguh suatu hal yang belum pernah saya rasakan selama hidup di negara Indonesia, yang merupakan negara tropis atau panas, padahal sebelumnya selama 29 hari di Mekkah suhu udara tidak jauh beda dengan Indonesia, tapi entah kenapa, begitu kami yang merupakan Kloter 88 Embarkasi Surabaya atau Haji Tamattu, turun dari Bus dan menginjakkan kaki di kota Madinah, suhu udara sangat dingin sekali, berkisar 7 sampai 8 derajat celcius. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Madinah.

Namun esok pagi ( pukul 03.00 waktu Madinah) saat kami keluar dari Hotel Mubbarok untuk mengawali Arbain dengan menjalankan Sholat Subuh di Masjid Nabawi ( sebelumnya kami Sholat tahajud di masjid Nabawi ), suhu udara seakan sudah tidak kompromi lagi dengan kami, sungguh luar biasa dinginnya, yaitu kisaran 4 derajat celcius. Tak ayal kamipun ( saya dan istri ) balik lagi kekamar hotel untuk menambah jaket agar bisa mengurangi rasa dingin, dengan begitu kami telah mengenakan pakaian rangkap 4 plus penutup kepala (Kerpus), kaos kaki dan kaos tangan serta sorban untuk membungkus leher, itupun udara dingin masih cukup terasa di badan.

Untung saja Hotel Mubarrok, tempat kami menginap selama di Madinah, letaknya cukup dekat dengan Masjid Nabawi, hanya dengan melangkah menyeberang saja, kami sudah sampai di pintu masuk Raudhoh, tempat makam Rasullullah SAW, sehingga cukup tertolong karma tidak terlalu jauh.

Begitu juga saat kami berada didalam Masjid Nabawi, saya dan teman-teman ( istri sudah berpisah, masuk di pintu khusus wanita ) harus pandai-pandai mencari strategis agar bisa berlama-lama didalam masjid sambil ber-i’tikaf, Sholat Tahajud, membaca Alqur’an, ataupun berdzikir dll.
Saya dan teman-teman mencari tempat di pojok kanan dekat Raudhoh, dimana disekitar itu beberapa pintu tidak dibuka, sehingga mengurangi hembusan angin dingin, Alhasil, selama 8 hari di Madinah saya dapat melakukan ibadah ARBAIN dengan tenang, menempati salah satu sudut pojok Masjid yang terbesar dan termegah didunia itu.

Anehnya saat kami pulang melalui bandara di kota Madinah, suhu udara di bandara langsung berubah drastis menjadi panas, sekitar 30 derajat, padahal saat kami keluar dari hotel Mubarrok pukul 12 siang, semua jamaah yang satu rombongan dengan kami masih mengenakan pakaian rangkap 3 plus penutup kepala, kaos tangan dan kaos kaki, yang artinya suhu udara masih dingin, tapi entah kenapa suhu di bandara berubah drastis menjadi panas, padahal letak bandara masih di kota Madinah juga. itulah kekuasaan ALLAH SWT.

Kamis, 10 Juli 2008

Tertangkap Askar ( Polisi ) Karena Bawa Handycam

Ibadah Haji adalah merupakan moment paling penting dalam kehidupan setiap ummat manuasia yang beragama Islam, yang tidak bisa dilewatkan begitu saja untuk didokumentasikan baik melalui foto maupun rekaman video.

Termasuk dalam perjalanan Ibadah Haji kami ( saya dan istri ) pada tahun 2007 yang lalu, hampir seluruh aktivitas ibadah haji kami, selalu kami abadikan dalam Foto melalui kamera digital maupun kedalam video melalui Handycam, yang tentu saja semua itu kami lakukan dengan sangat hati-hati disele-sela ritual Ibadah Haji, agar tidak mengganggu dan mengurangi nilai ibadah itu sendiri.

Namun ada pengalaman menarik yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup, yaitu ketika sedang menjalankan ibadah Umroh Sunnah, dimana saat akan memasuki Masjidil Haram melalui pintu 45 untuk melakukan Thowaf, Sa’i dan Tahllul, semua jamaah digeledah oleh Askar ( Polisi ), dan tas yang kami bawa diperiksa, tentu saja kami dengan tenang menyodorkan tas untuk diperiksa.

Diluar dugaan kami, ternyata Kamera Digital dan Handycam yang kami bawa dirampas oleh Askar, dan terjadilah perdebatan kecil antara kami dengan Askar tadi, yang pada akhirnya kami diberi pilihan, boleh masuk untuk melakukan Thowaf, Sa’i dan Tahallul, tetapi Kamera dan Handycam harus ditinggal dan bisa diambil lagi setelah keluar pintu tadi atau silahkan keluar, demikian kata Askar tadi dengan bahasa Arab plus bahasa isyarat.

Kami memang tidak mengira akan diperlakukan seperti itu, karena hari-hari sebelumnya tidak ada pemeriksaan di pintu masuk dan kami pun selalu lenggang kangkung masuk serta bisa mengambil foto dan video didalam Masjidil Haram dengan leluasa, memang sih sebenarnya mengambil foto dan video didalam Masjidil Haram dilarang.

Oleh karena itu kami memilih keluar dari pintu 45 dan kami pun akhirnya berputar mencari pintu lain yang kami anggap agak longgar penjagaannya, dan ternyata benar, begitu kami lewat melalui pintu 79 semuanya lancar-lancar saja, tak ada pemeriksaan seketat pintu 45
Dan akhrinya kami berdua bisa masuk dan melakukan ibadah Thowaf keliling Ka’bah 7 kali lalu melanjutkan dengan Sa’i lari-lari kecil bolak-balik antara Sofa dan Marwah juga sebanyak 7 kali yang diakhiri dengan Tahalul ( memotong beberapa helai rambut )

Usai melakukan ibadah tersebut, kami melanjutkan dengan berkeliling Masjidil Haram, termasuk naik ke lantai paling atas untuk mengambil gambar Foto dan Video.
Subhanallah, sungguh mengagumkan menyaksikan jutaan ummat Islam yang sedang memutari Ka’bah untuk melakukan Thowaf, kesempatan ini kami abadikan kedalam rekaman video, kami juga sempat merekam jamaah haji dari Indonesia yang berebutan memasuki Hijir Ismail dengan memanjat tembok setengah lingkaran. Masya Allah.