Saat Melaksanakan Ibadah ARBAIN ( Sholat Rowatib selama 8 hari atau 40 kali Sholat Rawatib ) di Masjid Nabawi Madinah, seakan terasa lebih berat pada musim Haji tahun 2007 kemarin, hal ini karena saat itu bersamaan dengan musim dingin bulan Desember 2007, yang dapat dilihat dari alat pengukur suhu udara yang kala itu menunjukkan angka kisaran 4 sampai 5 derajat celcius.Sungguh suatu hal yang belum pernah saya rasakan selama hidup di negara Indonesia, yang merupakan negara tropis atau panas, padahal sebelumnya selama 29 hari di Mekkah suhu udara tidak jauh beda dengan Indonesia, tapi entah kenapa, begitu kami yang merupakan Kloter 88 Embarkasi Surabaya atau Haji Tamattu, turun dari Bus dan menginjakkan kaki di kota Madinah, suhu udara sangat dingin sekali, berkisar 7 sampai 8 derajat celcius. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Madinah.
Namun esok pagi ( pukul 03.00 waktu Madinah) saat kami keluar dari Hotel Mubbarok untuk mengawali Arbain dengan menjalankan Sholat Subuh di Masjid Nabawi ( sebelumnya kami Sholat tahajud di masjid Nabawi ), suhu udara seakan sudah tidak kompromi lagi dengan kami, sungguh luar biasa dinginnya, yaitu kisaran 4 derajat celcius. Tak ayal kamipun ( saya dan istri ) balik lagi kekamar hotel untuk menambah jaket agar bisa mengurangi rasa dingin, dengan begitu kami telah mengenakan pakaian rangkap 4 plus penutup kepala (Kerpus), kaos kaki dan kaos tangan serta sorban untuk membungkus leher, itupun udara dingin masih cukup terasa di badan.
Untung saja Hotel Mubarrok, tempat kami menginap selama di Madinah, letaknya cukup dekat dengan Masjid Nabawi, hanya dengan melangkah menyeberang saja, kami sudah sampai di pintu masuk Raudhoh, tempat makam Rasullullah SAW, sehingga cukup tertolong karma tidak terlalu jauh.
Begitu juga saat kami berada didalam Masjid Nabawi, saya dan teman-teman ( istri sudah berpisah, masuk di pintu khusus wanita ) harus pandai-pandai mencari strategis agar bisa berlama-lama didalam masjid sambil ber-i’tikaf, Sholat Tahajud, membaca Alqur’an, ataupun berdzikir dll.
Saya dan teman-teman mencari tempat di pojok kanan dekat Raudhoh, dimana disekitar itu beberapa pintu tidak dibuka, sehingga mengurangi hembusan angin dingin, Alhasil, selama 8 hari di Madinah saya dapat melakukan ibadah ARBAIN dengan tenang, menempati salah satu sudut pojok Masjid yang terbesar dan termegah didunia itu.
Anehnya saat kami pulang melalui bandara di kota Madinah, suhu udara di bandara langsung berubah drastis menjadi panas, sekitar 30 derajat, padahal saat kami keluar dari hotel Mubarrok pukul 12 siang, semua jamaah yang satu rombongan dengan kami masih mengenakan pakaian rangkap 3 plus penutup kepala, kaos tangan dan kaos kaki, yang artinya suhu udara masih dingin, tapi entah kenapa suhu di bandara berubah drastis menjadi panas, padahal letak bandara masih di kota Madinah juga. itulah kekuasaan ALLAH SWT.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar